Lompat ke isi
Mula

Tentang

Dibuat di Jakarta, oleh orang-orang yang percaya buku catatan perajin adalah bukti.

1 · Kenapa Mula ada

Seorang petani di timur menanam kapas. Seorang pencelup merebus kunyit dan nila yang dibelinya dari keluarga yang menanam sendiri bahan-bahan tersebut. Seorang penenun menyimpan resep selama dua puluh tahun dalam sebuah buku catatan yang tak pernah diminta untuk dilihat oleh siapa pun di luar bengkelnya. Di sebagian besar formulir yang menjelaskan bagaimana sebuah produk dibuat, tak satu pun dari mereka muncul. Formulir itu menginginkan sertifikat, pabrik, pemasok yang bisa dijangkau dengan berkendara singkat dari kantor pusat. Di sebuah negeri kepulauan, sesuatu yang disebut lokal bisa berada di pelosok, dan sering kali pekerjaan yang paling cermat justru meninggalkan jejak paling sedikit di atas kertas.

Perangkat-perangkat itu dibangun untuk perusahaan besar, pada skala yang sebagian besar perajin tak akan pernah capai, dan memang tak pernah dirancang untuk mereka. Sistem yang mengabaikan orang-orang yang mengerjakannya tak akan mampu melihat atau melindungi mereka, dan tidak seharusnya dipercaya berbicara atas nama mereka.

Mula berangkat dari ujung rantai itu. Sebuah paspor publik yang tetap menyertai produk. Angka-angka yang dapat dibagikan jenama berdasarkan catatan yang sudah ada di tangan mereka. Sebuah tangga, dari mulai mencatat apa yang selama ini tersimpan di kepala dan buku catatan, hingga siap menjadi paket ekspor dan menghadapi berbagai kerangka kerja.

Kebenaran yang terdokumentasi membawa martabat yang sama dengan yang tersertifikasi. Itu inti gagasannya.

2 · Siapa yang membuatnya

Mula dibuat di Jakarta oleh PT Nara Inovasi Indonesia yang didirikan pada 2026.

Farah Savitri mendirikan Mula setelah lebih dari empat belas tahun bekerja di bidang teknologi dan strategi.

“Bertahun-tahun saya mengisi formulir yang tidak punya baris untuk orang-orang yang paling berarti. Petani yang menanam warnanya. Perempuan yang memintal kapas lebih lama dari usia karier saya. Setiap formulir yang kami isi membuat mereka sedikit lebih tak terlihat. Saya membangun Mula supaya formulir berikutnya dimulai dari mereka.”
Farah Savitri, pendiri Mula

3 · Cara kami bekerja

Secara langsung, jenama demi jenama, dengan seseorang di samping perangkat lunaknya.

Untuk saat ini Mula hanya bisa diakses lewat undangan, karena begitulah aturan bukti tetap terjaga sementara kami tumbuh. Yang kami pegang:

  • Catatanmu adalah milikmu, dan jika suatu hari kamu pergi, kamu dapat membawa datamu sendiri.
  • Perajin menentukan apakah dan bagaimana mereka disebut, dan bisa menariknya kapan saja.
  • Setiap angka publik ditampilkan bersama tingkat buktinya; klaim yang belum bisa didukung tidak tampil di halaman publik.
  • Mula bukan lembaga sertifikasi dan tidak berafiliasi dengan lembaga sertifikasi mana pun. Jalur ini membantu mempersiapkan. Bukan memberikan sertifikasi.

Baca jawaban lengkapnya di Pertanyaan →

4 · Pilot pendiri

Paspor Mula yang pertama ada di hangtag sebuah rumah mode Indonesia yang ikut membentuk platform ini sejak awal. Kolaborasinya kini sudah di ritel: perajin disebut dengan persetujuan, hangtag sungguhan, klaim ditinjau sebelum tayang.

Pengalaman itu mengajarkan kami bahwa bahkan sebuah rumah mode dengan rekam jejak yang kuat pun membutuhkan cara pandang yang lebih adil untuk melihat para perajin kecil dan kolektif dalam rantai produksinya, beberapa di antaranya bahkan harus ditempuh dengan pesawat dan perahu.

Di atas kertas, pekerjaan mereka tampak seperti sebuah kekurangan. Di dalam paspor, justru di situlah ceritanya: nama mereka dicantumkan dengan persetujuan, berdampingan dengan tingkat buktinya.

Mitra ikut membentuk Mula. Nara yang memiliki dan menjalankannya.

5 · Ke mana kami menuju

Tekstil dan fesyen lebih dulu. Indonesia lebih dulu.

Setelah itu, rantai yang juga padat perajin seperti rantai kami: furnitur, kayu, rotan. Soal harga menyusul saat Mula dibuka untuk umum.

Kalau yang kamu buat punya perjalanannya sendiri, mulai dari satu obrolan.